Cara mudah membuat Sushi~

(http://maumaumakan.blogspot.com/2010/11/jenis-jenis-sushi-maki.html)

Siapa yang tidak tahu sushi? Makanan dari Jepang ini begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia. Berikut ini, saya akan memberi tahu bagaimana cara yang mudah untuk membuat sushi.

Sushi yang kami buat adalah jenis sushi Maki atau Makisushi, yaitu isi sushi (neta) dibungkus dengan nasi dan dilapisi oleh Nori (lembaran rumput laut), karena isi sushi ini beraneka macam, maka namanya adalah Futomaki.

Oke persiapan yang dilakukan adalah.

  • Nori (rumput laut), bisa di beli dalam bentuk perbungkus (5 sd 10 Nori) dengan berbagai jenis lebar
  • Sudare (anyaman bambu), yang berguna untuk menggulung sushi.
  • Nasi, sebaiknya menggunakan beras Jepang yang pulen, tetapi kami menggunakan nasi biasa yang ada di meja makan kami tetapi agar lengket kami berikan campuran air cuka dan garam, sehingga nanti nasi dapat menempel dan terasa gurih.
  • Neta (lauk), biasanya kami siapkan Filet Ikan Salmon, Mentimun, Kepiting Nuget, Cabe Rawit, Telur Dadar, kalau ada Alpukat boleh juga, sebenarnya apa saja sih bisa dimasukkan tergantung selera, tetapi ikan mentah dan segar selalu menjadi neta utama.
  • Wasabi. Ini adalah penyedap khas dari Jepang. Kami memiliki wasabi dalam bentuk tepung, karena lebih awet jika disimpan, dan jika diinginkan, maka tinggal tambahkan air dan cuka untuk mengentalkannya.
  • Murasaki (kecap asin), biasanya kami pakai Kecap Kikoman

Sekarang adalah bagaimana cara membuatnya.

  1. Letakan Nori dengan sisi yang halus didalam diatas Sudare
  2. Lapiskan nori dengan nasi yang sudah kita aduk dengan cuka dan garam. Lapiskan tipis saja.
  3. Letakan Neta diatas nasi.
  4. Gulung dengan hati-hati sambil memadatkannya.

Ada bagian penting dalam proses pembuatan sushi, yaitu pisau yang digunakan untuk memotong gulungan sushi harus sangat tajam dan siapkan segelas air untuk membasahi pisau agar nanti tidak lengket dengan nasi dari sushi.
Saat dihidangkan, buat campuran Murasaki ditambah sedikit bubuk cabe, agar rasanya mantap.

(http://dewanatha.com/index.php?option=com_content&view=article&id=113:cara-membuat-sushi&catid=55:resep-masakan&Itemid=82)

Nah, begitu lah cara membuat sushi. Mudah bukan? Selamat praktek di rumah! 😀

(http://sibukforever.blogspot.com/2011/02/sushi-diatas-tubuh-wanita.html)

(http://catatankoas.blogspot.com/2011/04/terjerat-sushi.html)

Hanami kegiatan tahunan masyarakat Jepang~

Hanami (花見?, melihat bunga) atau ohanami adalah tradisi Jepang dalam menikmati keindahan bunga, khususnya bunga sakura. Mekarnya bunga sakura merupakan lambang kebahagiaan telah tibanya musim semi. Selain itu, hanami juga berarti piknik dengan menggelar tikar untuk pesta makan-makan di bawah pohon sakura.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Hanami)

(http://www.ayalamoriel.com/index.cfm?PageName=New_Perfumes)

Bunga di atas adalah bunga sakura yang hanya tumbuh di negara Jepang. (http://www.gregtakayama.com/hanami-part-3)

Perayaan Hanami ini adalah perayaan untuk melihat bunga sakura, yang merupakan Bunga khas dari negara Matahari Terbit. Budaya merayakan mekarnya bunga ini, tidak adda di negara Indonesia.

Hanami, merupakan perayaan yan gdiselenggarakan secara sederhana akan tetapi dengan kesederhanaanya itu, perayaan hanami justru menjadi kesenangan terbesar bagi orang-orang Jepang dalam setahun kehidupan mereka.

Budaya seperti ini yang sudah mulai luntur pada diri sebagian masyarakat Indonesia. Dewasa ini, masyarakat Indonesia, pada umunya masyarakat ekonomi kelas atas, lebih suka mencari kesenangan dengan cara menghambur-hamburkan uang, seolah kemewahan merupakan simbol mutlak dari kebahagiaan. Padahal dari kesederhanaan seperti yang yang terdapat pada perayaan hanami di Jepang itu juga bisa tercipta kebahagiaan tersendiri, karena pada saat perayaan hanami, orang-orang Jepang tidak hanya sekedar menikmati keindahan bunga sakura, akan tetapi orang-orang Jepang juga mempunyai waktu tersendiri untuk berkumpul bersama keluarga dan orang-orang tersayang.

Hanami~ (http://rahmifadhil.wordpress.com/about-japan/culture/hanami/)

Perayaan Hanami yang dalam sejarah berarti melihat-lihat bunga sakura, dalam perkembangannya perayaan ini lebih bersifat sebagai ajang rekreasi.

Bisa kita bayangkan kebahagiaan orang-orang Jepang pada saat mereka merasakan kehangatan berkumpul bersama keluarga diantara rimbun pepohonan sakura yang sedang mekar. Sebuah rekreasi keluarga dalam kehangatan budaya tradisional yang tidak goyah oleh hadirnya gaya hidup modern. Kenyataan ini sungguh berbeda dengan keadaan masyarakat Indonesia. Budaya Indonesia yang ketimuran justru mulai terkikis oleh hadirnya budaya-budaya barat yang menyebabkan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat kota, terkesan menjadi masyarakat yang individual. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sehingga jarang mempunyai waktu untuk berkumpul bersama keluarga.

Perayaan Hanami ini tidak bisa dianggap sebagai perayaan yang biasa, karena meskipun sekedar menyaksikan mekarnya bunga sakura, dengan adanya perayaan hanami menunjukkan kecintaan masyarakat Jepang terhadap bunga sakura.

Perayaan semacam ini mungkin tidak bisa kita jumpai di negara-negara lain, yang menakjubkan adalah masyarakat Jepang tetap melestarikan Budaya hanami, meskipun di era modern ini banyak pilihan tempat untuk bersantai bersama keluarga, misalnya dengan pergi ke tempat karaoke.

Masyarakat Jepang tetap memilih berkumpul dan bersantai bersama keluarga di bawah pohon sakura sambil menikmati keindahan bunga sakura.

Keteguhan masyarakat Jepang dalam melestarikan budaya tradisional mereka, patut untuk diteladani. Tidak hanya hanami, kebiasaan berkirim nengajo (kartu pos) pada saat tahun baru dan menjelang musim panas juga tetap berlangsung ditengah masyarakat Jepang. Sekalipun kecanggihan teknologi telah memungkinkan mereka untuk meninggalkan kartu pos, tapi masyarakat Jepang masih melaksanakan budaya tradisional tersebut.

Hal-hal tersebut itulah yang sering terlupakan oleh sebagian masyarakat lain, katika mereka disibukkan dengan rutinitas pekerjaan, mereka tidak lagi mempunya waktu khusus untuk berkumpul bersama keluarga.

Begitu juga ketika kecanggihan teknologi telah merambah masyarakat modern, hanya sebagian kecil dari mereka yang tetap menggunakan jasa kantor pos untuk berkirim kartu pos ataupun surat.

Harusnya kita bisa bercermin pada orang-orang Jepang bagaimana meraka tetap mampu melestarikan budaya tradisional tersebut. Karena dari hal-hal sepele seperti itulah akan tercipta kesempurnaan, akan tetapi kesempurnaan bukanlah hal yang sepele.

Berbicara tentang hanami tentu tidak akan terlepas dari bunga sakura. Konon kabarnya bunga sakura hanya mekar selama tujuh sampai sepuluh hari.

Secara umum bunga sakura bermekaran dimulai dari daerah selatan yang berudara lebih hangat, yaitu di pulau Okinawa, kemudian merambat ke utara, dan berakhir di Hokkaido. Pada sebuah web di internet pernah dijelaskan bahwa hikmah besar mengenai kehidupan ini tersimpan pada keberadaan bunga sakura. Di balik ukurannya yang mungil, bunga yang memiliki berbagai mcam variasi warna, yang pada setiap tangkainnya berkembang lima hingga ratusan bunga ini telah memberi contoh pada kita bahwa hal-hal kecil jika dirangkai dalam sebuah untaian besar dapat memberi sebuah keindahan, dan hal-hal kecil berarti besar bila dipadukan. Bisa jadi karena beberapa keistimewaan yang terdapat pada bunga sakura itulah, mengapa orang-orang Jepang begitu antusias merayakan hanami untuk menyaksikan mekarnya bunga sakura yang hanya berlangsung selama tujuh sampai sepuluh hari.

Semoga saja kelak dalam perjalanan hidup kita bisa turut menjadi kuncup kecil yang bersatu bersama dengan yang lainnya untuk menciptakan indahnya kebersamaan, seindah kebersamaan orang-orang Jepang ketika merayakan hanami dibawah pohon sakura.

(http://accan.wordpress.com/2009/04/22/perayaan-hanami/)

(http://www.tripadvisor.com/ReviewPhotos-g298564-d321451-r14908583-Gion-Kyoto_Kyoto_Prefecture_Kinki.html)

Yang tak kalah menariknya adalah beberapa fakta yang ada di balik hanami, di antaranya adalah trik-trik untuk mendapatkan lokasi hanami. Biasanya, untuk rombongan besar akan memburu tempat yang strategis untuk digelari tikar. Biasanya dari sejak malam sebelumnya ada yang ditugasi khusus untuk mencari lokasi yang strategis, kemudian menggelar tikar di situ dan menunggu hingga esok pagi. Kalau tidak, bisa-bisa direbut oleh rombongan lain. Namun ada juga yang tidak memperbolehkan pola seperti itu, karena sangat rawan perkelahian. Adalah Maruyama Koen, taman paling ramai di Kyoto saat musim sakura, sudah sejak lama dikuasai oleh jaringan yakuza (organisasi tradisional preman di Jepang sejak pertengahan Zaman Edo). Untuk memperoleh jatah tempat, tinggal mengontak jaringan yakuza, dan membayar seharga 700 yen untuk tempat seluas 1 tatami (kira-kira 1×2 meter). Harga ini sudah termasuk sewa alas (terpal) dan tikar bekas tatami. Bayangkan saja kalau satu rombongan memerlukan luasan tempat setidaknya 30 tatami, berarti harus siap-siap uang 21.000 yen alias Rp 2.100.000 saja 🙂

Mahal? ya, tentu saja. Tapi tak perlu kuatir. Kalau sekedar hanami sendiri atau dengan beberapa orang saja, bisa memilih tempat-tempat yang tak perlu membayar 🙂

(http://ppi-kyoto.org/artikel/100-artikel/901-hanami-tradisi-menikmati-indahnya-bunga-sakura)

Hello world!

Selamat datang di blog.ugm.ac.id. Ngebloglah dan curahkan pikiran anda disini. Silahkan menggunakan fasilitas ini dengan penuh tanggung jawab.

Admin blog akan melakukan peringatan apabila ada abusement/pelanggaran dalam penggunaan fasilitas ini.

selamat berkarya 🙂